Instagram dan Snapchat Menyingkirkan fitur GIF Sementara

SEO UNDERCOVER CO ID 35

Instagram dan Snapchat terkenal karena layanan visualnya yang banyak digemari. Kebanyakan penggunanya adalah anak-anak muda dan pemilik brand yang ingin menonjolkan sisi visual produknya. Tak heran, Instagram dan Snapchat menyediakan sebanyak mungkin pilihan untuk mempercantik tampilan stories mereka agar semakin seru; beragam filter, stickers, bahkan: gambar-gambar GIF .

Namun jika Anda kebetulan membuka dua aplikasi itu dalam jangka waktu beberapa hari ini, akan ada pertanyaan di benak Anda: mengapa opsi GIF ini mendadak tidak ada?

Usut punya usut, mereka sedang meninjau ulang kerja sama dengan platform penyedia gamba-gambar GIF tersebut, yaitu Giphy. Alasannya, ditemukan beberapa konten gambar GIF yang berbau rasisme dan ini membuat banyak pihak mengkhawatirkan dampaknya secara politis. Apalagi isu ini sedang menjadi perdebatan besar di negara asalnya, Amerika.

Perubahan ini jelas membuat banyak pengguna Instagram dan Snapchat merasa terganggu. Pasalnya, gambar-gambar GIF—yang biasanya diambil dari cuplikan film atau klip lucu, atau animasi sederhana—dinilai bisa menghantarkan emosi pengguna lebih baik daripada sekadar kata-kata. Lagi pula, sajiannya yang ekspresif dirasa bisa meramaikan suasana stories kita. Tanpa GIF, enggak seru.

Ketika dimintai keterangan, Giphy mengaku sudah membereskan masalah yang dimaksud. Namun, baik pihak Instagram maupun Snapchat belum sepenuhnya mau kembali memberikan izin sampai mereka benar-benar yakin.

Seperti yang telah banyak diketahui, Giphy sebenarnya memiliki model pengumpulan konten semacam user generated content. Atau pendek kata, para pengguna dari mana saja boleh mem-posting konten mereka ke website untuk menjadi resource bagi platform tersebut. Dan hal ini sebenarnya baik-baik saja karena dalam peraturannya, mereka telah menetapkan batasan yang ketat akan apa saja yang boleh dan tidak boleh di-post ke sana.

Yang terjadi kemarin sesungguhnya adalah kesalahan sistem; ada bug yang membuat algoritma mereka bekerja dengan tidak sebagaimana mestinya sehingga konten-konten yang tidak pantas pun jadi bisa lolos.

Adalah seorang pengguna Twitter bernama Lyana Augmon yang pertama kali menyadari hal ini, seperti yang bisa kita lihat di bawah ini:

Dalam tataran politik Amerika, penggunaan kata N—(disensor demi kenyamanan bersama – sumber: theverge.com) adalah tabu. Sehingga, tidak heran segenap pengguna media sosial mengamini pernyataan tersebut dan menuntut kurasi Giphy agar lebih ketat. Muatan politisnya tinggi, dan baik Instagram maupun Snapchat tidak mau dianggap pro terhadap kejahatan rasial dalam bentuk apa pun.

Apalagi, mengingat kedua platform ini memiliki porsi yang besar dalam kehidupan para pengguna Internet. Instagram seolah membawa

yang menggabungkan fotografi dan tulisan; konsep yang sebelumnya tidak pernah diseriusi. Ditambah dengan lusinan pilihan filter yang memukau, pantas saja para pengguna Internet susah lepas darinya. Instagram membawa suatu tren baru, suatu standar baru akan gaya hidup dan content-management yang mudah—bahkan anak sekolah pun bisa melakukannya—sekaligus dengan hasil yang serius. Foto-foto cantik yang dulunya mempersyaratkan penguasaan Photoshop kini semudah satu-dua tekan pada ponsel di genggaman.

baca juga

Jasa Pembuatan Website Profesional

Panduan Memulai Website Bisnis Anda

Jasa SEO Google Perusahaan Jakarta

Peranan SEO Dalam Meningkatkan Profit Bisnis Perusahaan

Pelatihan Private Kursus SEO Untuk Karyawan Dan Pebisnis

30 Daftar Jasa SEO Jakarta Dan Indonesia

Pasang Iklan

Undercover.co.id Media Promosi Bisnis Anda

Iklan Advetorial

Jasa Sosial Media

Email Marketing

26 Panduan Email Marketing Lengkap

Top 30 Agensi Advertising Yang Ada Di Jakarta

Snapchat, sementara itu, adalah jejaring pertama yang mempopulerkan penggunaan konten ephemeral. Sifatnya yang ephemeral tadilah yang membuat para penggunanya selalu memiliki urgensi untuk merekam, melihat, memonitor. Dengan gambar atau video yang bisa menghilang beberapa saat setelah kita mengirimkannya, kita jadi tidak usah khawatir pada para pencuri data (atau setidaknya, membatasinya) dan juga tidak berat bagi memori ponsel masing-masing pengguna.

Mempertimbangkan potensinya yang besar, juga animo para pengguna pada fitur GIF, bisa dibilang nantinya fitur ini akan kembali lagi walau entah kapan. Sementara, mari berpuas dengan fitur-fitur yang ada.

Jangan lupa gunakan media sosial Anda dengan bijak.

Ad Blocker Detected

Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please consider supporting us by disabling your ad blocker.

Refresh